Suara jangkrik dan hembusan sepoi angin malam yang ditemani dengan binar gemerlip bintang tengah malam mengiringi perjuangan wanita paruh baya untuk berjuang antara hidup dan mati dua nyawa, nyawa sendiri dan nyawa bayi yang sedang dikandungnya itu.Hanya ditemani lampu templek atu lampu oblek (dikampungku biasa menyebut demikian) untuk mengusir gelap gulita di rumah ku. Mbok Daripah dukun beranak yang biasa menemani dan menolong orang dikampungku dan disekitar kampungku mungkin tidak henti-hentinya memberikan instruksi kepada wanita paru baya itu agar tetap bertahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayi yang dikandungnya lebih dari 9 bulan itu.
Entah berapa liter keringat yang telah mengucur dari perempuan paruh baya itu, entah berapa teriakan yang dikeluarkan seolah menunjukkan betapa sakitnya apa yang dirasakan saat itu, entah berapa kali juga hembusan nafas panjang keluar masuk dari hidung dan mulutnya. Cuar,,,,suara lengkingan kecil yang keluar dari jabang bayi yang masih merah penuh darah persalinan memecah kecemasan menjadi keharuan dan kebahagian wanita paruh baya itu, Mbok Daripah dan semua orang yang menemani persalinan bayi mungil itu.
Mungkin jangkrik dan kunang-kunang di sekitar rumah menyayi, menari bahagia menyambut bayi mungil imut dan menggemaskan itu.
Amar Ma'ruf begitulah nama yang diberikan untuk bayi yang belum lama dilahirkan itu, didesaku biasanya untuk memberikan nama bayi nunggu weton hari lahirnya. Bukan wanita paruh baya yang telah berjuang habis-habisan buat bayi nya itu, bukan pula sang suami yang menitipkan benih cinta dan tanggung jawabnya kepada wanita itu yang memberikan nama kepada bayi itu. Maklum mereka sangat awam bahkan Sekolah Dasar aja mereka tidak lulus.
Adik dari wanita itu lah yang memberikan nama AMAR MA'RUF itu, entah apa harapan yang terngiang ketika nama itu dimunculkan, ato hanya nama itu yang terbesit di telinga sang adik, karena AMAR MA'RUF tidak jarang dilontarkan ketika khutbah dan majlis taklim lainnya di kampung. Ah masa bodoh dengan bagaimana nama itu muncul yang penting nama itu do'a agar anak itu mampu menjadi manfaat, berdampak baik bagi diri sendiri, orang tua dan masyarakat.
Bayi yang tumbuh menjadi bocah laki-laki ganteng, imut dan menggemaskan itu memulai masuk bangku Taman Kanak-Kanak (TK) taman bermain dan bersosial dengan teman sebaya nya. TK MUSLIMAT NU TUNAS HARAPAN begitulah nama nya, dikampung itu hanya ada satu TK itu saja, di TK itu si bocah belajar dan bermain dengan sesama, dengan bimbingan guru dan orang tua anak itu tumbuh menjadi bocah cerdas dan lincah.
Selepas TK si bocah melanjutak pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah BAHRUL ULUM, sekolah yang masih satu yayasan dengan TK dimana bocah itu bermain dan belajar. Bukan tanpa alasan kenapa harus belajar di yayasan tersebut, selain karena satu-satunya yayasan pendidikan yang ada, madrasah itu juga berada dekat dengan rumah si bocah. bahkan hanya dengan langkah yang agak panjang tidak lebih dari 25 langkah dah sampai.
Kenakalan khas bocah umur 6-12 tahun dialami sebagai masa pertumbuhan dari bayi menuju anak, kadang menggemaskan, kadang bikik gregetan bahkan kadang harus dipukul untuk mengingatkan si bocah agar tidak nakal. Meskipun demikian si AMAR MA'RUF tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya tak jarang dia harus bangun shubuh untuk membantu ibu nya yang membuka toko klontong dirumahya, sekedar membantu menunggui pisang goreng dan jemblem (singkok yang diparut kemudian diberi gula merah, kemudian di goreng, sebagian daerah menyebutnya dengan ogal-agil) atau menunggui adiknya yang sudah lahir.
sepulang sekolah tidak lupa membantu ibunya yang juga berjualan es, meskipun hanya membelikan es batu,ato hanya sekedar mencuci meja tempat berjualan es.
Mengaji tidak lepas dari kehidupan Amar Ma'ruf kecil, meskipun agak jauh tapi dia tetap semangat untuk belajar agama,,,,
To be continued,,,
Entah berapa liter keringat yang telah mengucur dari perempuan paruh baya itu, entah berapa teriakan yang dikeluarkan seolah menunjukkan betapa sakitnya apa yang dirasakan saat itu, entah berapa kali juga hembusan nafas panjang keluar masuk dari hidung dan mulutnya. Cuar,,,,suara lengkingan kecil yang keluar dari jabang bayi yang masih merah penuh darah persalinan memecah kecemasan menjadi keharuan dan kebahagian wanita paruh baya itu, Mbok Daripah dan semua orang yang menemani persalinan bayi mungil itu.
Mungkin jangkrik dan kunang-kunang di sekitar rumah menyayi, menari bahagia menyambut bayi mungil imut dan menggemaskan itu.
Amar Ma'ruf begitulah nama yang diberikan untuk bayi yang belum lama dilahirkan itu, didesaku biasanya untuk memberikan nama bayi nunggu weton hari lahirnya. Bukan wanita paruh baya yang telah berjuang habis-habisan buat bayi nya itu, bukan pula sang suami yang menitipkan benih cinta dan tanggung jawabnya kepada wanita itu yang memberikan nama kepada bayi itu. Maklum mereka sangat awam bahkan Sekolah Dasar aja mereka tidak lulus.
Adik dari wanita itu lah yang memberikan nama AMAR MA'RUF itu, entah apa harapan yang terngiang ketika nama itu dimunculkan, ato hanya nama itu yang terbesit di telinga sang adik, karena AMAR MA'RUF tidak jarang dilontarkan ketika khutbah dan majlis taklim lainnya di kampung. Ah masa bodoh dengan bagaimana nama itu muncul yang penting nama itu do'a agar anak itu mampu menjadi manfaat, berdampak baik bagi diri sendiri, orang tua dan masyarakat.
Bayi yang tumbuh menjadi bocah laki-laki ganteng, imut dan menggemaskan itu memulai masuk bangku Taman Kanak-Kanak (TK) taman bermain dan bersosial dengan teman sebaya nya. TK MUSLIMAT NU TUNAS HARAPAN begitulah nama nya, dikampung itu hanya ada satu TK itu saja, di TK itu si bocah belajar dan bermain dengan sesama, dengan bimbingan guru dan orang tua anak itu tumbuh menjadi bocah cerdas dan lincah.
Selepas TK si bocah melanjutak pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah BAHRUL ULUM, sekolah yang masih satu yayasan dengan TK dimana bocah itu bermain dan belajar. Bukan tanpa alasan kenapa harus belajar di yayasan tersebut, selain karena satu-satunya yayasan pendidikan yang ada, madrasah itu juga berada dekat dengan rumah si bocah. bahkan hanya dengan langkah yang agak panjang tidak lebih dari 25 langkah dah sampai.
Kenakalan khas bocah umur 6-12 tahun dialami sebagai masa pertumbuhan dari bayi menuju anak, kadang menggemaskan, kadang bikik gregetan bahkan kadang harus dipukul untuk mengingatkan si bocah agar tidak nakal. Meskipun demikian si AMAR MA'RUF tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya tak jarang dia harus bangun shubuh untuk membantu ibu nya yang membuka toko klontong dirumahya, sekedar membantu menunggui pisang goreng dan jemblem (singkok yang diparut kemudian diberi gula merah, kemudian di goreng, sebagian daerah menyebutnya dengan ogal-agil) atau menunggui adiknya yang sudah lahir.
sepulang sekolah tidak lupa membantu ibunya yang juga berjualan es, meskipun hanya membelikan es batu,ato hanya sekedar mencuci meja tempat berjualan es.
Mengaji tidak lepas dari kehidupan Amar Ma'ruf kecil, meskipun agak jauh tapi dia tetap semangat untuk belajar agama,,,,
To be continued,,,

0 comments:
Post a Comment